Tampilkan postingan dengan label JAWA TIMUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAWA TIMUR. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Agustus 2016

Gerakan nasional literasi bangsa

0 komentar


Alhamdulilah, kemarin Minggu 28 agustus 2016 bisa berdiri dan belajar banyak kepada mereka siswa siswi di SD MUHAMMADIYAH 6 SURABAYA. Dalam kesempatan itu, banyak ilmu yang saya dapatkan. Literasi semakin hari, semakin berkembang. dari yang awalnya hanya seputar dunia baca, kini mengarah kepada dunia tulis dan teknologi.



   Acara yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Balai Bahasa Jawa Timur, dengan di dukung oleh BPMTV. Dalam acara ini, kebetulan saya diundang untuk mengisi acara. Adapun materi yang saya sampaikan, masih sama seperti di sekolah-sekolah sebelumnya yaitu seputaran budaya baca dan tulis semenjak usia dini.

    Dalam acara ini, saya melihat banyak calon-calon generasi hebat. Mereka begitu bersemangat untuk belajar dan mendengarkan dengan seksama dan suasana aktif seperti ini, belum pernah saya rasakan di sekolah-sekolah sebelumnya. Ketika saya memberikan pertanyaan, mereka berebut untuk menjawabnya, dan begitupun ketika saya mempersilahkan mereka untuk maju dan menceritakan tentang perpustakaan disekolahnya, mereka berebut hingga saya bingung harus pilih yang mana. Ini merupakan suasana aktif yang keren menurut saya.

   Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 dan selesei pukul 11 30, serasa masih kurang jika melihat antusias mereka. Sungguh serasa saya bertemu dengan anak-anak yang tepat dan ini bibit unggul harus dikawal terus. Andaikan saja, dikota-kota lain digelar acara serupa khususnya daerah-daerah tertinggal, niscaya penyebaran ilmu literasi akan tampak besar manfaatnya secara menyeluruh. Semoga dikota-kota lain, bisa demikian 
Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak, dan adik-adik semua. Semangat dan teruslah belajar.
Ingat esok pasti lebih indah dan teruslah berkarya.
Read more...
Minggu, 20 Maret 2016

LITERASI BERSAMA SURYA

0 komentar
Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.

Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya  Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.
Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.
Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi.
Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.
“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya...
Sumber harian surya.
Read more...
Sabtu, 27 Februari 2016

NGEBLOG BARENG PERPUS TIM

0 komentar


Alhamdulilah, acara pelatihan pembuatan Blog hari ini tanggal 02/27/2016 berjalan dengan lancar. Adapun peserta yang mengikuti pelatihan ini totalnya berjumlah 14 orang. Untuk kedepannya para peserta diharapkan mampu menggunakan sarana blogger sebagai media publikasi atas segala kegiatan yang dilakukan para peserta.















Untuk acara kali ini dipandu oleh masternya blogger saudara Much Wakhid Mabrur dari Jombang yang kebetulan juga salah satu pengembang budaya baca di daerahnya. Untuk acara kegiatan kali ini kita disupport penuh oleh Kantor perpustakaan dan Arsip Kabupaten Sidoarjo, Dea Wijaya Hotel, Navanda klinik, dan lembaga sosial Bustanul Hikmah.

Melihat antusias para peserta, kita yakin semua akan bisa mengembangkan materi yang sudah didapatkan dalam pelatihan pembuatan blog ini, karena prosesnya sangat mudah, yang penting para peserta mau terus mengembangkan apa yang sudah diberikan.




Muhammad fauzi selaku ketua Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat akan menjadikan agenda pelatihan semacam ini untuk menjadi agenda rutin tahunan seperti tahun-tahun sebelumnya, mengingat pelatihan semcam ini sangat penting untuk selalu diadakan.

Read more...
Senin, 23 November 2015

UMK

0 komentar
Berbicara mengenai UMK, kemarin telah resmi diumumkan tentang upah minimum untuk wilayah Jawa timur oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya pada Sabtu (21/11/2015) dini hari. Dari situ bisa diketahui untuk besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) untuk 38 kabupaten/kota yang berlaku per 1 Januari 2016. Peresmian besaran nilai UMP itu tertuang melalui Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 68 Tahun 2015 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Timur Tahun 2016 tertanggal 20 November 2015. 

       Adapun (UMK) tertinggi adalah Kota Surabaya sebesar Rp 3.045.000, diikuti Kabupaten Gresik Rp 3.042.500, Kabupaten Sidoarjo Rp 3.040.000, Kabupaten Pasuruan Rp 3.037.500, serta Kabupaten Mojokerto Rp 3.030.000. Di susul dengan ( UMK) Kabupaten lain yang nilainya semakin kecil.

       Gaung demonstrasi sudah tidak terdengar keras lagi setelah diumumkannya nilai UMK tersebut. Hal ini berbeda dengan suasana ketika jauh hari sebelum ditentukannya nilai UMK, dimana banyak kaum buruh yang menuntut nilai UMK yang lebih besar. Mungkin, kaum buruh sudah merasa puas dengan ketetapan Gubernur Jawa timur Soekarwo tersebut. Sehingga para kaum buruh sudah tidak mengadakan demo dengan gelombang besar untuk menuntut nilai UMK yang lebih besar lagi.

    Diluar konteks yang saya sebutkan diatas “UMK” namun masih tetap berhubungan dengan gaji, yaitu perihal insentif untuk pengelola Perpustakaan Desa. Selama ini para pengelola Perpustakaan hanya sebatas dianggap relawan yang dimana mereka hanya mendapatkan insentif yang nilainya jauh lebih kecil dari UMK yang ada di wilayah Jawa Timur.

     Untuk besaran insentif para Pengelola Perpustakaan desa, besarannya berbeda-beda yaitu tergantung pada kebijakan masing-masing kepala Desa. Adapun insentif yang ada diwilayah Sidoarjo, masih ada pengelola Perpustakaan yang insentifnya tidak lebih dari 200 ribu. Dan selama ini mereka tidak mampu untuk menyuarakan keinginan mereka guna mendapatkan insentif yang lebih layak lagi. Karena mereka juga tidak tahu harus kemanakah mereka berorasi dan berunjuk rasa seperti kaum buruh yang menuntut kenaikan UMK.

      Perihal insentif, seharusnya ada aturan yang jelas minimal nominalnya sama dimasing-masing wilayah kabupaten seperti halnya UMK. Karena mereka bisa dikatakan bekerja mencerdaskan masyarakat melalui buku dan kegiatan lain yang mereka berikan melalui perpustakaan. Namun alangkah naifnya jika anda tahu, bahwa insentif mereka rata-rata begitu kecil. Apakah yang demikian itu layak untuk biaya hidup?. Tentunya tidak, namun mereka tak mampu menuntut. Karena mereka sendiri tidak tahu harus demo kemana dan pada siapa.

Para Pengelola Perpustakaan ini hanya bisa pasrah dan menerima apa yang telah diberikan oleh Pemerinatah Desa melalui ADD. Walau nilainya sangat kecil dan sangat jauh dari kata layak akan tetapi dengan iming-iming mendapatkan ‘’KMS’’ Kartu Menuju Surga para pengelola ini masih tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi apakah benar sudah minim sekali kepedulian dari pemutus kebijakan yang mengatur perihal insentif ini. Minimal memberikan insentif setengah dari UMK itu dah bagus menurut saya.

Adapun salah satu faktor tidak berkembangnya perpustakaan desa  bisa dikatakan karena kecilnya insentif yang diberikan Pemerintah desa kepada pengelola Perpustakaan. Para pengelola ini juga terkadang menilai menjadi pengelola hanya semacam kegiatan sosial biasa, yang membutuhkan keihklasan tinggi. Bahkan tak jarang pengelola perpustakaan yang ada di desa sering berganti orang yang mengelola, karena pengelola sebelumnya harus mencari pekerjaan yang lebih layak dari segi gaji.

Sungguh sangat ironis sekali, disaat pemerintah gembar-gembor menyuarakan budaya literasi dan peningkatan minat baca. Tapi para pengelola didalamnya tidak ada perhatian dari segi insentif. Saya yakin walau insentifnya kecil, atau tidak ada sekalipun, pengembangan budaya baca masih tetap bisa berjalan karena mereka tulus mengembangkan budaya baca. Tapi saya yakin pula bahwa ketika para pengelola mendapatkan insentif layak, maka kinerja mereka akan lebih maksimal lagi, karena mereka sudah tidak lagi terbebani memikirkan cara mencari untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Karena mereka sudah mendapatkan insentif layak, jadi mereka bisa lebih fokus dalam kegiatan pengembangan budaya baca.

Untuk masalah insentif pengelola Perpustakaan, kota Surabaya bisa dijadikan rujukan. Karena Surabaya satu-satunya kota yang memberikan insentif layak yaitu besarannya sesuai dengan UMK Surabaya. Jika memang daerah lain belum mampu sama, setidaknya besarannya juga sama dengan mengacu pada UMK masing-masing daerah. Saya yakin, jika memang Surabaya bisa, maka tidak menutup kemungkinan daerah lain juga bisa sesuai dengan batas kemampuan masing-masing daerah.

Tapi yang saya temui realitanya, masih belum ada daerah diluar Surabaya yang bisa memberikan setengahnya saja dari UMK masing-masing wilayah untuk insentif para pengelola  Perpustakaan desa. Dan inilah yang sering menjadi pertanyaan kami para pengelola Perpustakaan desa, apakah memang betul daerah kita tidak mampu menggaji kita dari setengahnya UMK saja, ataukah sudah tidak peduli pada gerakan pengembangan budaya baca dan lebih menjadikan Perpustakaan sebagai pelengkap program pemerintah semata.
Read more...
 
PERPUSTAKAAN SUKOREJO © 2014 | Designed By Blogger Templates