KORUPTOR KEKASIH
TUHAN
Sinopsis :
Handoyo adalah pengawai negeri dengan gaji pas-pasan,
mengkorupsi uang negara semula ingin membahagiakan keluarganya. Namun terjadi
sebaliknya, keluarga dan anak-anaknya berantakan. Untung Handoyo mulai sadar,
namun baru ada niat, akan bertaubat, Handoyo lebih dulu dijemput oleh-Nya.
______
@
RUMAH HANDOYO
Di ruangan yang kelihatan mewah itu
tampak Sri ayu wulandari sedang membuka dan membongkar barang belanjaannya sepulang dari Mall yang seabrek. Hari itu srie
habis belanja baju, sepatu, tas, dan aneka kebutuhan lainnya. Kemudian salah
satu bajunya sedang dicoba depan kaca rias berikut perhiasan emas berlian yang
sungguh mewah. Sementara Handoyo duduk sambil membaca Koran . Kopi sebagai
pemanis dan kue camilan sebagai pelangkap yang disajikan simbok juga ada dan
siap dilahap oleh handoyo.
HANDOYO
Srie menurutmu bagaimana kalo tiba-tiba suamimu ini mengaku
kalo aku seorang koruptor?
SRI
Dengan wajah ketus namun tetep ayu karena mak’up yang tebal.
srie menjawab pertanyaan handoyo tanpa
memandang ….apa kata orang kampung sini...kalo kamu ngaku koruptor...gak usah
malu-maluin biar gini saja enak kok
ngapain pake buat pengakuan segala.
Pertanyaan itu
dianggap srie hanya bualan gak penting dan dia masih sibuk mencoba mengenakan aneka
barang yang yang tadi dibelinya.
HANDOYO
Dari pada begini terus Sri...!
SRI
Dari pada begini terus gimana?...apa sudah mikir?... kalo
kamu ngaku koruptor! Apa jadinya keluarga kita nantinya? Dia menjawab sambil
merapikan bajunya di depan cermin.
HANDOYO
Yang pasti ...kita akan malu srie....
SRI
kalo kita malu itu sudah biasa…tetangga
kita rumahnya pada dibangun... dulu rumah kita gitu-gitu terus
saja......tetangga punya TV besar….dulu Tv kita tetap jadul... tetangga kita
punya mobil... dulu kita hanya ngenes kapan ya punya mobil.... jadi malu itu
sudah makanan kita sehari-hari ....tapi kalo nanti sampai harta kita disita
negara... itu tidak sekedar malu...ingat!!!...aku gak mau jadi orang miskin
lagi. Aku dah bosan hidup susah mas, pokoe gak usah, hidup sekarang lebih baik.
kita kaya. Mas hanya perlu melakukan seperti biasa, kerja saja dan lakukan apa
yang bisa dilakukan untuk dapat uang, itu baru tujuan hidup.
HANDOYO
Ya gimana lagi...resiko Sri..
SRI
Resiko...resiko...itu namanya
konyol... tahu....
HANDOYO
Lalu aku harus gimana Sri?... aku
gak kuat kalo seperti ini terus, bayangan dosa merasuki pikiranku srie.
SRI
Gini kalo sampai ketahuan...tiru
saja para koruptor di tipi-tipi itu... cari pengacara yang handal....biar semua
diurus dan mas bisa bebas...gampang kan?
HANDOYO
Iya kalo bisa bebas? kalo aku
ditahan?....
SRI
jangan khawatir.... saya jenguk
nanti....
HANDOYO
tapi aku malu Sri...
SRI
Gitu saja malu....tu lihat
koruptor di tipi-tipi itu... nilainya jauh lebih besar...kamu itu belum ada
apa-apanya mas! Jika dibandingkan dengan mereka. Lihatlah mereka masih bisa
tersenyum...masih bisa da..da..da..di…di… di depan orang banyak... tunjukkan
bahwa kita orang yang ga salah sedikitpun.....kok malah mau ngaku gimana
itu....mikir...jadi koruptor kok ga profesional....dengan muka kecut keluar
kamar menutup pintu dengan keras tanpa mau memperdulikan keinginan handoyo
suaminya.
PINGGIRAN SUNGAI YANG DI KELILINGI PEPOHONAN RINDANG
Sementara itu Handoyo tampak
sedih duduk termenung sendirian di tepi
sungai dan di balik sorot memerah sinar matahari sore hari yang akan tenggelam
di ufuk barat. Handoyo tak tau harus melakukan apa, melamun dan linglung dalam
kesenyapan sore yang dijemput petang.
Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang
mengalami depresi karena pergulatan
batin yang sangat berat. Dimana dia ingin mengakui segala perbuatan dosa yang
sudah dia lakukan, namun dia juga belum sanggup melawan keinginan istri yang
dicintainya itu.
Pergulatan terus berlanjut beberapa hari
sehingga akal warasnya sudah tidak lagi bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal
sepele sekalipun. Sementara srie masih berangapan bahwa handoyo masih baik-baik
saja, dia hanya butuh istirahat dan pasti sehat seperti sedia kala.
Merah berubah manjadi gelap. Handoyo
memutuskan pulang untuk istirahat dan menenangkan diri dirumah. Dengan mobil
avanza dia melajukan kendaraannya dengan cepat, tanpa peduli apa yang ada
disamping kanan kiri sepanjang perjalanannya.
Tak berselang lama handoyo sudah sampai
dirumah seperti biasa. Namun wajah lelahnya masih melekatat bak baju kusut yang
belum disetrika.
Tubuh yang dulu telikas dan bisa cepat,
kini sudah tak bisa diajak kompromi, pikiran dan tubuh dia sudah tak lagi mampu
komunikasi dengan baik.
Gerakan dan semangat hidupnya sudah kendor semua. Apa yang dia inginkan
tak disetujui istri tercintanya. Dan pergulatan itu tak mampu dia keluarkan
dari medan pertempuran yang semakin sengit dan membabi buta.
TEMPAT PRAKTIK DOKTER JIWA
Siang itu menggunakan mobil inova handoyo
bersama istrinya pergi kesalah satu dokter jiwa untuk memeriksakan keadaan
handoyo yang kian hari kian buruk. Tanpa pernah berkata sepatahpun handoyo
menuruti semua perkataan istrinya. Sementara itu,srie yang mengemudikan mobil
masih ngomel-ngomel sendiri mengutuk keadaan handoyo yang kian terpuruk.
Perjalanan
sekitar 15 menit sampailah kesalah satu dokter yang direkomendasikan oleh teman
srie. Tampak Handoyo duduk di depan ruangan dokter jiwa dengan didampingi oleh
istrinya.
Perawat memangil no urut 23 untuk dipersilahkan masuk. Sementara srie
dengan keras menarik tangan handoyo yang sedari tadi duduk di depan ruang praktik dokter muhlis
iskandar.
Sementara itu dokter iskandar memeriksa
keadaan handoyo yang sudah tiduran di tempat pasien diperiksa. Pandangan handoyo masih kosong menatap
langit-langit ruangan yang hanya terdapat lampu Philip 28 wat.
SRI…Bagaimana keadaan suami saya
dok?
DOKTER
Suami ibu ini hanya kena depresi
ringan saja ndak usah dikhawatirkan, harus banyak istirahat dan tidak boleh
terlalu banyak yang dipikirkan. Dan untuk sementara tidak boleh untuk bekerja
serta memikirkan hal-hal yang berat.
SRI
Ohh…jadi maaf belum sampai gini kan dok meragakan
jarinya di keningnya sebagai tanda kalau handoyo sudah gila. Melihat ekspresi
srie, handoyo langsung menoleh kewajah srie yang menganggapnya sudah gila.
Sementara dalam pikiran handoyo berfikir kok sebegitu teganya istri yang
disayanginya menganggap dirinya sudah gila. Handoyo merasa hidupnya semakin tak
berarti lagi dan perlakuan sri semakin membuatnya putus asa.
DOKTER
Belum masih jauh..suami ibu ini
hanya kena depresi ringan saja (sambil menulis resep).... mungkin karena ada
masalah besar di Kantor yang sedang ia pikirkan. Ini resep segera dibelikan
obat. Minum sesuai anjuran. Muda-mudahan cepat sembuh. Dengan cacatan tolong
ibu juga harus segera membawa suami ibu ke psikolog ya.... biar satu per satu
terurai apa yang menjadi beban pemikiran suami ibu..gitu ya !
SRI
ya dok... terimaksih.
Mereka lalu berdiri dan berjabat
tangan. Dan handoyo pun turun dari tempat pembaringan dokter iskandar. Lalu
mereka pergi dari tempat yang dianggap sri bisa memberikan solusi untuk
kesehatan handoyo.
JALAN RAYA KERAMAIAN KOTA
Tampak keramaian kota. Handoyo yang berjalan-jalan membawa mobil
sendirian untuk mencari ketenangan. Di dalam mobil Handoyo mengemudikan mobil
dengan sedih dan terkadang mengerem
mendadak, nyaris menubruk kendaraan yang lain karena kurang konsentrasi.
Dan sesaat kemudian Handoyo menepikan
mobilnya di pinggir jalan. Karena takut konsentrasinya masih tergangu dan dia
coba untuk menenangkan diri sesaat.
Selepas itu handoyo kembali melanjutkan
perjalanan dengan harapan agar bisa sampai dirumah dengan cepat.
Di dalam mobil ia batuk-batuk kesakitan
sambil menekan dadanya. Tetapi handoyo tetap meneruskan mengemudikankendaraannya
dengan terpaksa. Mungkin, sakit jantungnya kambuh. Batuknya mengeluarkan
sedikit gumpalan darah di tangannya dan itu berulang kali selama diperjalanan.
Ia coba untuk tarik nafas dalam-dalam sambil bersandar di jok mobilnya dengan
santai namun tetap konsentrasi kedepan.
Setelah merasa agak mendingan handoyo melajukan mobilnya dengan cepat
untuk bisa kembali pulang kerumah. Sementara mobil melaju dengan hati-hati
namun cepat, tak terasa langit sudah gelap. Sesamapai dirumah handoyo berharap
bisa langsung rebahan dikamar dan ada air hangat yang disediakan istrinya. Tapi
itu semua tak ia temui ketika tiba dirumah.
Melepas sepatu diruang tamu dan menaruh tas
kerjanya diitempat seperti biasa yaitu almari. Lalu handoyo mengambil air putih
dan langsung beristirahat tanpa mengganti pakaiaannya terlebih dahulu.
Handoyopun langsung terlelap dipembaringan
empuk itu, dan tiada yang tau apa yang ada dalam mimpi tidurnya. Semua berjalan
dengan kehendak sang pencipta.
RUMAH KARAOKE
Di dalam karaoke ada Sri ayu wulandari
dengan laki-laki selingkuhannya, Hermanto. Sementara itu sebuah lagu telah selesei di nyanyikan dan
sesaat kemudian selingkuhan srie itu mencoba mengajak untuk menyanyi bareng..
HERMANTO
Ayo sayang...nyanyi bareng yuk...
SRI
lagi males nih...
HERMANTO
lo ada apa sayang?.....
SRI
aku sedih..
HERMANTO
Sedih? Kenapa?...
SRI
suamiku…mas handoyo.
HERMANTO
lo sekarang kan sudah ada aku gak
usah dipikirin...kita happy saja yuk?
SRI
Ini masalah pelik...!
HERMANTO
Masalah apa lagi? Ayolah sayang
kita hepy gak usah dibawa kesini donk masalahe.
SRI
Suamiku katanya mau ngaku kalo ia
selama ini telah menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi, gila gak?
Bisa kere aku kalo dia sampai ngaku.
HERMANTO
gampang...
SRI
kamu punya ide.? wajahnya
tiba-tiba berseri berharap ada solusi dari hermanto.
HERMANTO
Ada dong hermanto gituloh. Gini
caranya bawa saja suamimu ke dokter jiwa...
SRI
sudah...
HERMANTO
ohya....lalu apa kata dokter..
SRI
katanya..dia hanya depresi
ringan...
HERMANTO
oke...oke...aku punya ide
lagi...gimana kalo ….sembari tersenyum manis menghadap sri.
SRI
kalo apa...dengan raut penasaran
HERMANTO
suamimu kita bunuh saja.....!
SRI
Hemm . kamu jangan bodoh.. konyol
dan lebih gila itu namanya.
HERMANTO
Lebih konyol mana kalo dia
ngaku...kemudian hartamu disita....emm.. bayangin coba.
SRI
Iya juga sih...tapi jangan main
bunuh lah....
HERMANTO
Terus mau apa lagi....ga ada
jalan lain selain kita bunuh suamimu. Kita juga bisa nikah dan bebas sayang. Sembari
mendaratkan kecupan merekah di bibir sri.
SRI
kalo terbongkar... penjara
taruhannya...
HERMANTO
Ya iyalah...kita juga gak sebodoh
itu kan..
SRI
Maksudmu?...
HERMANTO
Sini saya bisikin....
Sri mendekati Hermanto, lalu berbisik-bisik lirih tak terdengar apa
omongannya. Sementara musik keromantisan terus bertaluh-taluh mengiringi
rencana busuk mereka. Selepas itu mereka melanjutkan berkaraoke ria sembari
ditemani sebotol anggur merah membuat gairah malam semakin menjadi-jadi dan
membawa mereka ke surga kenikmatan yang tiada tara.
Rupanya setan telah berhasil
merasuki keduanya dan music itu menjadi sugesti untuk menari bersama dan tarian
erotis yang diperagakan srie membuat gairah handoyo melunjak-lunjak seperti
gelombang badai lautan.
KAMAR HANDOYO
Sementara itu dalam kamar tidur jam dinding
manunjukkan angka satu. Di atas Dipan tampak Handoyo sedang tertidur pulas. Karena
kelelahan pikiran dan beban hidup. Srie ayu wulandari tiba dirumah dengan naik
taxi sendirian. Selang sekitar 30 menit kemudian Di luar rumah tampak seorang laki-laki dengan kepala ditutup sarung
dengan membawa golok lari sembunyi-sembunyi biar tidak dilihat orang.
Kemudian lelaki itu meloncat pagar rumah Handoyo. Lalu menyusup dan
mengendap-ngendap di balik pohon.
Terdengar suara anjing menggonggong dan
purnama seakan menambah lengkapnya ritual prosesi persembahan tumbal dan
handoyo adalah tumbal itu.
Angin berhembus dengan dinginnya siap
menusuk ketulang insan yang berlalu lalang dijalanan. Sementara itu Hermanto
terus melancarkan aksinya.
Tak lama kemudian laki-laki itu masuk
melalui cendela samping dan ternyata cendela tersebut sudah dipersiapkan oleh
Srie ayu wulandari. Setelah itu hermanto menyelinap masuk ke balik kamar.
Di dapur tampak Srie ayu wulandari sedang
membuat kopi karena tau hermanto akan segera datang. Dengan mengendap-endap
hermanto menuju dapur karena disitu terdengar suara srie yang sedang mengaduk
kopi. Tiba-tiba hermanto mendekap srie dari belakang dan mencium lehernya. Ihhh
udah donk, kan tadi di kafe udah. Kata srie sembari membalikkan tubuh dan
memberikan secangkir kopi untuk hermanto.
HERMANTO
Emmm anget sayang emmuachhh
hermanto mendaratkan kecupan dibibir srie yang merah merekah itu....
SRI
Ingat... target kita malam ini
harus berhasil..... pokoknya dia harus mati...
HERMANTO
beres....berlagak sombong
SRI
Ayo buruan kerjakan !
Entar keburu mas handoyo bangun.
HERMANTO
siap...(menirukan gerakan
tentara) tapi sebelum itu aku minta transport donk sayang!
SRI… Transpot apaan?
HERMANTO
Itutuh memberikan isyarat bahwa
hermanto lagi berhasrat. Dan ingin melepaskan serta melemaskan otot-otot
tegangnya. Srie pun menuruti keinginan hermanto yang lagi dipuncak gairah
sahwatnya. Didapur itu Hermanto melucuti semua pakaian Sri dan burgumal tanpa
busana diatas lantai. Tak jarang mereka mengganti posisi dengan berdiri dan
semua terjadi bsebegitu cepatnya seakan sudah jadi keinginan diantara mereka.
Selepas meluapkan nafsu sahwatnya
hermanto memakai pakaiannya kembali. Begitupun dengan sri. Sri memberikan
kecupan manis yang didaratkan dikening hermanto dan ini seakan menjadi isyarat
sudah waktunya hermanto untuk melaksanakan tugasnya.
Lalu Hemanto perlahan dengan langkah
perlahan tanpa suara memasuki kamar Handoyo. Sementara Srie ayu wulandari mengintip di balik pintu kamarnya yang
berhadapan dengan kamar handoyo.
Tak lama kemudian, di dalam kamar
Hermanto dengan sangat bengisnya menancapkan golok ke kepala Handoyo sehingga
Handoyo menggerang kesakitan. Suaranya bagai babi atau orang yang menjemput
ajal. Darahnya muncrat ke tembok dan
membasahi sprei kasur tempat handoyo tidur.
Hermanto keluar dan memanggil sri kalo dia
sudah menyeleseikan tugasnya. Dan kini tugas srie untuk membuat alibi dan
membersihkan barang bukti.
Seketika itu Srie ayu wulandari terbangun dari tidurnya dengan nafas
tersengal-sengal seperti atlit yang habis lari jarak jauh. Keringatnya bercucuran
dan matanya terbelalak ketakutan.
Ohhh!!!
Ternyata semua itu hanya “mimpi
buruk” untung saja ujarnya.
Saat itu Srie ayu wulandari
terbangun dari tidurnya dengan posisi tepat di sebelah Handoyo.
SRI
Astagfirwollah huladim.....(nafas
tersengal-sengal kemudian sangat perlahan kepalanya menoleh ke arah Handoyo
dengan ekspresi takut, setelah melihat di sampingnya ada kertas dan sebuah
polpen, lalu diambil kertas itu kemudian dibacanya:
HANDOYO
Istriku...maafkan aku kalau
sekarang baru menyampaikan alasanku mengapa aku harus mengaku kepada pihak yang
berwajib, jika aku pernah menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi dan
keluargaku........
Istriku....dulu mengapa aku
mengkorupsi uang negara... karena aku mengira jika kita bergelimang dengan
harta... hidup kita akan akan senang...bahagia. Ternyata aku salah jalan
istriku... kebahagian yang kita rasakan semu. Kita sering bertengkar hanya
karena persoalan-persoalan kecil. Diantara kita makin jauh.
Kita seperti punya kehidupan
sendiri-sendiri. Belum lagi kita rasanya makin rakus dan rakus dengan
dunia...sebaliknya makin jauh dengan sang khaliq...
istrku belum lagi anak sulung
kita yang hampir segala permintannya kita penuhi, dulu aku mengira dia akan
makin pandai, hormat, patuh dan sayang kepada
kita. Tetapi apa yang terjadi... dia malah terkena narkoba...dan dia
seakan-akan menjadi musuh kita.
Dan satu lagi istriku... sudah
sekian lama kita ingin punya anak perempuan yang lucu, pintar dan sehat. Memang
kita telah dikaruniai anak perempuan (nenangis)...tetapi istriku kesehatan
mentalnya terganggu.....kita memang harus menyayanginya tapi sekaligus menjadi
beban hidup kita....
Istriku... aku tidak bermaksud
berburuk sangka kepada Allah....tapi lebih baik semua itu aku yakini sebagai
bentuk peringatan dari perbuatan terlarang yang kita lakukan selama ini. Aku
bertaubat istriku...demi allah...aku tak akan mengulangi perbuatan terlarang
itu lagi...semoga Allah mengampuni dosaku istriku....
Bertobatlah sayang!!!
Sri ayu wulandari setelah membaca itu lalu membangunkan Handoyo.
Namun Handoyo sudah tidak bergerak dan hanya diam saja..
SRI
Mas...bangun mas...mas bangun
mas....
Saat itu Srie ayu wulandari kaget
melihat wajah Handoyo yang tiba-tiba berseri dengan bibir tersenyum.
SRI
Mas bangun mas... jangan bercanda
ah mas...mas jangan bercanda mas....(lalu didekatkan telinganya sri didadanya
handoyo yang tak bernafas lagi).....mas....mas....(kaget lalu didekatkan
telinganya di atas dada Handoyo sekali lagi)... lo mas kamu... mulai menangis histeris
dan sekencang-kencangnya.. jangan tinggalkan aku mas....(Srie ayu wulandari
langsung mencium tangannya setelah di disendekapkan di atas dadanya. Srie masih
menangis dan tetap menagis hingga air matanya sudah tak mampu menitikkan air
mata lagi.
KEPERGIAN HANDOYO
UNTUK SELAMANYA
Di ruang tengah tampak Handoyo
terbujur kaku di atas Dipan lengkap dengan kain kafannya dengan diselimuti
beberapa helai jarik. Wajahnya ditutup kain putih transparan. Banyak tamu duduk
tersimpuh di atas lantai. Wajah-wajah tamu tampak sedih. Sanyup-sayup terdengar
suara mengaji surat Yasin.
Sementara Srie ayu wulandari,
anak laki dan anak perempuannya duduk persis di samping kanan kiri kepala
Handoyo. Di wajah mereka tampak sedih dan sayu. Sesaat kemudian Srie ayu
wulandari perlahan membuka kain transparan yang menutupi wajah Handoyo. Wajah
Handoyo tampak berseri dengan bibir tersenyum. Seakan sebagai simbol dia sudah
damai ada di taman surga ilahi.
SRI :
lihat nak...wajah
bapakmu....berseri dan bahagia sekali...insya allah bapakmu menjadi kekasih
Allah.....semoga diampuni dosanya... dan insya allah kelak akan masuk surga
.... ucap srie kepada Anak Sulungnya
dengan lirih.
Begitupun anak srie, mata merahnya
sesekali menitikkan air mata mengiringi kepergian handoyo untuk selama-lamanya.
Penyesalan srie tampak begitu
dalam. Kesedihannya tak akan mampu untuk membangunkan handoyo agar bangkit dan
hidup lagi. Sikecil yang autis itu, masih tak mengerti dengan apa yang
menyebabkan ayahnya pergi untuk selamanya. Tapi gadis itu juga tak bisa
dipungkiri bahwa dia juga ingin menjerit dan protes kepada tuhannya karena ayah
yang dia cintai pergi meninggalkannya untuk selamanya. Namun jeritannya hanya
bisa diucapkan dalam hati.
---TAMAT –
