fauzi baim
www.perpustim.blogspot.comMore
fauzi baim
www.perpustakaantim.comMore
Blogger fauzi baim
www.perpustakaantim.com/More
Poster Inc Blogger fauzi baim
www.perpustakaantim.comMore
Minggu, 24 April 2016
Kamis, 24 Maret 2016
Seteguk literasi
Berbicara tentang literasi untuk para pegiatnya memang tidak akan pernah bosan. Apalagi sekarang ini, literasi sudah menjadi endemi—yang mewabah menjadi salah satu ‘penyakit’—yang mudah menular dari satu orang ke orang lain. Kini literasi tidak hanya disukai oleh kalangan yang dekat dengan buku saja, masyakarat dari banyak tingkatan pun mulai terjangkiti ‘penyakit’ literasi. Wabah tersebut ternyata juga sampai di Kota Udang Sidoarjo, dan dibangunkan kembali oleh anak-anak muda yang menamakan diri sebagai Komunitas Malam Puisi Sidoarjo.
Malam Puisi Sidoarjo yang menyajikan acara sharing proses kreatif menulis dengan mengundang penulis berbakat dari Sidoarjo dan merayakan puisi ini digelar pada Minggu, 20 Maret 2016 dengan dihadiri oleh 20 peserta. Acara yang menyuguhkan cara mencintai literasi dengan unik ini sebelumnya sudah menyelenggarakan Malam Puisi Sidoarjo pertama dan kedua.
Sebelum memasuki proses sharing kreatif, terlebih dulu peserta yang hadir bergantian membacakan puisi-puisi sendiri ataupun puisi penyair nasional. Suasana malam dan aroma keheningan sangat menunjang kesyukukan acara. Ferdi Afrar salah satu peserta Malam Puisi Sidoarjo membacakan puisinya sendiri yang berjudul ‘Pintu’ sebagai pembuka acara. Disusul peserta lain seperti Asoka Ahmad, Denny Novita, dan lainnya yang juga turut merayakan puisi.
Malam Puisi Sidoarjo yang mulus terlaksana di Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Buduran Sidoarjo kali ini mengundang Shabrina WS penulis novel dan fabel dari Sidoarjo yang karyanya sudah bertebaran di toko buku nasional. Pada kesempatan ini, Shabrina berbagi ilmu menulis yang menarik kepada peserta. Menuliskan binatang sebagai salah satu tokoh dalam sebuah novel romance adalah hal yang bisa dibilang rumit tapi mengagumkan. Lebih mengagumkan lagi, karena melalui tulisan ia sembari mengampanyekan kecintaan terhadap satwa dengan cara yang berbeda. ia ingin menyentuh hati manusia agar mencintai satwa melalui karya.
Pada akhir acara, Shabrina menekankan agar tidak jemu berliterasi. “Usahakan selalu membaca dan menulis setiap hari walaupun sebentar dan sedikit,” lontarnya saat ditanya oleh salah satu peserta tentang bagaimana cara konsisten bertahan mencintai literasi. “Jangan lupa, menulislah apa yang kita tahu. Saya menulis tentang binatang, karena saya mencintainya. Saya ingin pembaca tahu, bahwa binatang jelas punya sudut pandang yang berbeda dengan kita,” lanjutnya memberi penjelasan.
Sebagian gambaran
Minggu, 20 Maret 2016
LITERASI BERSAMA SURYA
Categories :
Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.
Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.
Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.
Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi.
Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.
“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya...
Sumber harian surya.
Sabtu, 27 Februari 2016
NGEBLOG BARENG PERPUS TIM
Categories :
BUDURAN . JAWA TIMUR . LOKAL . SIDOARJO
Untuk acara kali ini dipandu oleh masternya blogger saudara Much Wakhid Mabrur dari Jombang yang kebetulan juga salah satu pengembang budaya baca di daerahnya. Untuk acara kegiatan kali ini kita disupport penuh oleh Kantor perpustakaan dan Arsip Kabupaten Sidoarjo, Dea Wijaya Hotel, Navanda klinik, dan lembaga sosial Bustanul Hikmah.
Melihat antusias para peserta, kita yakin semua akan bisa mengembangkan materi yang sudah didapatkan dalam pelatihan pembuatan blog ini, karena prosesnya sangat mudah, yang penting para peserta mau terus mengembangkan apa yang sudah diberikan.
Muhammad fauzi selaku ketua Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat akan menjadikan agenda pelatihan semacam ini untuk menjadi agenda rutin tahunan seperti tahun-tahun sebelumnya, mengingat pelatihan semcam ini sangat penting untuk selalu diadakan.
Minggu, 14 Februari 2016
ODOJ SIDOARJO
Categories :
Alhamdulilah, hari ini 2/14/2016 saya bisa ikut ngaji bareng rekan-rekan ODOJ SIDOARJO yang acaranya digelar di pendopo Alun-Alun Sidoarjo. Dalam acara ini, saya sebagai tamu undangan yang tentunya orang baru dan tidak tau lebih mendalam. Berbekal keberanian dan sedikit wawasan keagamaan saya mengiyakan ketika ada ajakan untuk jadi tamu dalam acara tersebut.
Malu dan agak canggung karena belum terbiasa berkumpul dalam komunitas keagamaan yang dimana mereka adalah orang-orang special bagi saya, betapa tidak ditengah hiruk pikuk keramaian alun-alun sidoarjo dengan gegap gempitanya, mereka tetap bisa melantunkan ayat suci Al-quran.
Ini merupakan pengalaman yang sangat special bagi saya, bisa bertemu dengan banyak orang baru yang punya komitmen untuk mensosialisasikan pentingnya membaca Al-quran. Tidak hanya sampai disitu, saya juga menerima aneka buku bacaan yang dihibahkan oleh teman-teman.
Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain rasa syukur kepada Ilahi robby atas segala nikmat dan anugrahnya.
Senin, 23 November 2015
UMK
Categories :
Berbicara mengenai UMK, kemarin telah resmi diumumkan tentang upah minimum untuk wilayah Jawa timur oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya pada Sabtu (21/11/2015) dini hari. Dari situ bisa diketahui untuk besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) untuk 38 kabupaten/kota yang berlaku per 1 Januari 2016. Peresmian besaran nilai UMP itu tertuang melalui Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 68 Tahun 2015 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Timur Tahun 2016 tertanggal 20 November 2015.
Adapun (UMK) tertinggi adalah Kota Surabaya sebesar Rp 3.045.000, diikuti Kabupaten Gresik Rp 3.042.500, Kabupaten Sidoarjo Rp 3.040.000, Kabupaten Pasuruan Rp 3.037.500, serta Kabupaten Mojokerto Rp 3.030.000. Di susul dengan ( UMK) Kabupaten lain yang nilainya semakin kecil.
Gaung demonstrasi sudah tidak terdengar keras lagi setelah diumumkannya nilai UMK tersebut. Hal ini berbeda dengan suasana ketika jauh hari sebelum ditentukannya nilai UMK, dimana banyak kaum buruh yang menuntut nilai UMK yang lebih besar. Mungkin, kaum buruh sudah merasa puas dengan ketetapan Gubernur Jawa timur Soekarwo tersebut. Sehingga para kaum buruh sudah tidak mengadakan demo dengan gelombang besar untuk menuntut nilai UMK yang lebih besar lagi.
Diluar konteks yang saya sebutkan diatas “UMK” namun masih tetap berhubungan dengan gaji, yaitu perihal insentif untuk pengelola Perpustakaan Desa. Selama ini para pengelola Perpustakaan hanya sebatas dianggap relawan yang dimana mereka hanya mendapatkan insentif yang nilainya jauh lebih kecil dari UMK yang ada di wilayah Jawa Timur.
Untuk besaran insentif para Pengelola Perpustakaan desa, besarannya berbeda-beda yaitu tergantung pada kebijakan masing-masing kepala Desa. Adapun insentif yang ada diwilayah Sidoarjo, masih ada pengelola Perpustakaan yang insentifnya tidak lebih dari 200 ribu. Dan selama ini mereka tidak mampu untuk menyuarakan keinginan mereka guna mendapatkan insentif yang lebih layak lagi. Karena mereka juga tidak tahu harus kemanakah mereka berorasi dan berunjuk rasa seperti kaum buruh yang menuntut kenaikan UMK.
Perihal insentif, seharusnya ada aturan yang jelas minimal nominalnya sama dimasing-masing wilayah kabupaten seperti halnya UMK. Karena mereka bisa dikatakan bekerja mencerdaskan masyarakat melalui buku dan kegiatan lain yang mereka berikan melalui perpustakaan. Namun alangkah naifnya jika anda tahu, bahwa insentif mereka rata-rata begitu kecil. Apakah yang demikian itu layak untuk biaya hidup?. Tentunya tidak, namun mereka tak mampu menuntut. Karena mereka sendiri tidak tahu harus demo kemana dan pada siapa.
Para Pengelola Perpustakaan ini hanya bisa pasrah dan menerima apa yang telah diberikan oleh Pemerinatah Desa melalui ADD. Walau nilainya sangat kecil dan sangat jauh dari kata layak akan tetapi dengan iming-iming mendapatkan ‘’KMS’’ Kartu Menuju Surga para pengelola ini masih tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi apakah benar sudah minim sekali kepedulian dari pemutus kebijakan yang mengatur perihal insentif ini. Minimal memberikan insentif setengah dari UMK itu dah bagus menurut saya.
Adapun salah satu faktor tidak berkembangnya perpustakaan desa bisa dikatakan karena kecilnya insentif yang diberikan Pemerintah desa kepada pengelola Perpustakaan. Para pengelola ini juga terkadang menilai menjadi pengelola hanya semacam kegiatan sosial biasa, yang membutuhkan keihklasan tinggi. Bahkan tak jarang pengelola perpustakaan yang ada di desa sering berganti orang yang mengelola, karena pengelola sebelumnya harus mencari pekerjaan yang lebih layak dari segi gaji.
Sungguh sangat ironis sekali, disaat pemerintah gembar-gembor menyuarakan budaya literasi dan peningkatan minat baca. Tapi para pengelola didalamnya tidak ada perhatian dari segi insentif. Saya yakin walau insentifnya kecil, atau tidak ada sekalipun, pengembangan budaya baca masih tetap bisa berjalan karena mereka tulus mengembangkan budaya baca. Tapi saya yakin pula bahwa ketika para pengelola mendapatkan insentif layak, maka kinerja mereka akan lebih maksimal lagi, karena mereka sudah tidak lagi terbebani memikirkan cara mencari untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Karena mereka sudah mendapatkan insentif layak, jadi mereka bisa lebih fokus dalam kegiatan pengembangan budaya baca.
Untuk masalah insentif pengelola Perpustakaan, kota Surabaya bisa dijadikan rujukan. Karena Surabaya satu-satunya kota yang memberikan insentif layak yaitu besarannya sesuai dengan UMK Surabaya. Jika memang daerah lain belum mampu sama, setidaknya besarannya juga sama dengan mengacu pada UMK masing-masing daerah. Saya yakin, jika memang Surabaya bisa, maka tidak menutup kemungkinan daerah lain juga bisa sesuai dengan batas kemampuan masing-masing daerah.
Tapi yang saya temui realitanya, masih belum ada daerah diluar Surabaya yang bisa memberikan setengahnya saja dari UMK masing-masing wilayah untuk insentif para pengelola Perpustakaan desa. Dan inilah yang sering menjadi pertanyaan kami para pengelola Perpustakaan desa, apakah memang betul daerah kita tidak mampu menggaji kita dari setengahnya UMK saja, ataukah sudah tidak peduli pada gerakan pengembangan budaya baca dan lebih menjadikan Perpustakaan sebagai pelengkap program pemerintah semata.
Senin, 02 November 2015
GADIS CANTIK PENGEMBANG BUDAYA BACA
Namanya Ismi fadhilah, gadis muda yang baru berumur 19 tahun belum genap. Namun aksinya patut untuk diacungi jempol, mengingat dia mampu menjalankan aksinya menebar budaya baca di Desa sekitarnya walau hanya dengan fasilitas yang seadanya.
Dengan menggunakan sepeda angin dan gerobak kecil yang ada diboncengannya dia berkeliling menjajakan aneka buku bacaan gratis yang siap dibaca anak-anak yang lagi asik bermain disalah satu teras tetangganya.
Ismi merupakan sosok yang sangat patut diacungi jempol, karena tidak hanya berkeliling menjajakan aneka bacaan, dia juga memberikan bimbel dan mengajar mengaji dirumahnya. Untuk bimbel dan mengaji semua bersifat gratis, namun ada juga yang memberikan dana sukarela untuk apa yang telah dia lakukan.
Adapun anak-anak yang mengaji atau ikut bimbel jumlahnya sekitar 15 anak, dan pelaksanaan bimbel ini selepas magrib hingga selesei. Ismi fadhilah gadis yang tinggal di dusun buaran desa keboguyang kec jabon kab sidoarjo dia sangat menaruh harapan besar agar anak-anak diwilayahnya bisa kian cerdas melalui program yang dia lakukan yaitu melalui bacaan yang ada di perpustakaan yang dikelolanya dan juga bimbel yang ia berikan.
Untuk saat ini koleksi buku yang dimilikinya baru sekitar 150 eksemplar dan ini baginya sudah banyak karena untuk menambah koleksi buku bacaan sangat sulit bagi ismi yang sama sekali tidak bisa menggunakan akses internet, apalagi meminta-minta kepada simpatisan diluar daerah. Semua itu disebabkan tidak adanya fasilitas internet dan juga fasilitas pelengkap lainnya. Dan dia sangat menaruh harapan besar jika ada orang yang peduli terhadap aksinya, tentunya dengan menyedekahkan buku-buku bacaan untuk perpustakaannya.
Namun dia mengucapkan syukur setidaknya didaerah dia tinggal, anak-anak masih belum terlalu terkontaminasi dengan gatget, setidaknya ini bisa mempermudah dia dalam mengembangkan budaya baca tukasnya.
Untuk melihat salah satu aksi nyatanya anda bisa KLIK DISINI.
Jangan lupa LIKE dan SHARE jika anda terinspirasi biar semakin banyak yang peduli pada orang-orang seperti mereka.
Jangan lupa mampir disini ya http://www.perpustim.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)












